Oleh Badrussyamsi
Tak mungkin hati beranjak
Dari kesucian sewujud cinta
Hadir bagai butiran salju
Melunakkan karang-karang batin yang terjal
Meremukkan bebatuan dari dinding-dinding kesedihan
Menyejukkan bara hati yang terbakar
Tiada lena bagai keindahan semu
Hasrat hati yang menggapai
Memohon segera dilepas dari segala
Ujung-ujung yang tajam yang menghantam ke dalam relung hati
Ku berjerit karena terjepit duka
Dan derita yang tiada ujungnya
Kamis, 03 Mei 2012
Kepada Insan yang Sholehah
Oleh Badrussyamsi
Bujuklah tuhanmu dengan tatapan sucimu
Rindu basahi kekeringan
Nan menghimpit sukma insan-insan berdaya
Ku berjerit tanpa suara
Kepadamu, kepadanya
Dengarlah.......................?!
Rintihan keluh
Kerikil menyumbul ke langit sunyi
Membaur melebur
Jasad-jasad terkapar pasrah
Dan dengarlah...............?!
Nyayian bisik mereka
Tentang kayang tak mau tau
Kau harus sabar. Dan tabah
Dalam penantian yang kau damba
Jangan kau putus harapan
Teruslah berdoa dan berdoa
Itulah insan yang sholehah
Bujuklah tuhanmu dengan tatapan sucimu
Rindu basahi kekeringan
Nan menghimpit sukma insan-insan berdaya
Ku berjerit tanpa suara
Kepadamu, kepadanya
Dengarlah.......................?!
Rintihan keluh
Kerikil menyumbul ke langit sunyi
Membaur melebur
Jasad-jasad terkapar pasrah
Dan dengarlah...............?!
Nyayian bisik mereka
Tentang kayang tak mau tau
Kau harus sabar. Dan tabah
Dalam penantian yang kau damba
Jangan kau putus harapan
Teruslah berdoa dan berdoa
Itulah insan yang sholehah
Mau Tahu, Warna-warni Kehidupan?
Kata bijak: barang siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan menuai sukses; barang siapa yang bersabar, ia akan beruntung. Manisnya hidup akan terasa setelah berpayah-payah.
Dunia ini memang beraneka warna. Tak ada yang bisa membuatnya seragam. Kebaikan selalu memiliki lawan, yaitu kejelekan. Begitu seterusnya. Inilah yang disebut dengan keseimbangan. Gambar di atas, sepertinya ingin menunjukkan perlunya keseombangan itu. Tidak selamanya orang kaya tidak butuh pada yang miskin, begitu pula tak selamanya orang alim, santun, tidak butuh pada mereka yang dinilai urakan. Persis seperti sinetron Pesantren Rock and Roll di SCTV beberapa waktu lalu. Mencari ilmu bisa pada siapa saja, bahkan pada apa saja. Yang penting bukanlah kulitnya, melainkan substansinya. Meski ia seorang urakan, tapi ia berilmu dan tulus, mengapa kita tidak belajar pada mereka?
Warna kehidupan macam apa lagi ini? Seorang anak desa yang dengan gigih berjuang membantu orang tuanya, demi kelanggengannya mengecap bangku sekolah. Sungguh ia terlalu kecil untuk menggendong timba itu, ditambah lagi dengan memikul daun siwalan kering itu. Tapi, sungguh ia luar biasa. Tubuhnya yang kecil tak menyurutkan semangatnya, bahkan ia menyembunyikan seluruh kepedihan hdidupnya. Langkahnya tetap mantap, walau tampa alas kaki. Senyumnya yang meneduhkan, menyiratkan masa depannya yang gemilang. Selamat berjuang, dan semoga cita-citamu terwujud, nak...!
Ini dia satu di antara kisah-kisah orang yang luar biasa. Kebanyakan orang berpikir tentang nasibnya "mau jadi apa besok". Mereka tak pernah berpikir bagaimana mejadi pribadi yang bisa memberi manfaat pada orang lain. Walhasil, mereka-mereka itu pada akhirnya tak dapat apa-apa kecuali kebingungan yang sangat. Lihatlah lelaki yang satu itu. Dengan tekadnya yang luar biasa, ia menekuni proses panjang yang sangat tidak mudah. Berjibaku dengan lika-liku kehidupan yang bisa saja menjad alasan untuk mundur. Tapi, ia tetap maju, dan mantap dengan masa depannya. Ini prinsipnya: memberikan manfaat pada orang lain. Setiap hari harus keluar masuk rumah warga, dan hal semakin mematangkan jiwanya sebagai abdi negara. Kita harus banyak belajar dari orang-orang yang seperti ini, berproses dari nol, menuju masa yang dijanjikan Tuhan bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Ayo, tarik pak penghulu...! Sah?
Selasa, 01 Mei 2012
Muhidin M. Dahlan: Saya adalah Nabi Kegelapan
Berani! Itulah kesan yang tertangkap pada sosok anak muda asal
Sulawesi ini. Muhidin M. Dahlan, novelis yang lahir tahun 1978, ini
telah mewarnai dunia sastra Indonesia dengan torehan pena yang tajam.
Mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ini memang telah
gagal dalam menyelesaikan studinya di Universitas Negeri Yogyakarta dan
IAIN Sunan Kalijaga. Namun, ia yang akrab dipanggil Gus Muh ini ternyata
mampu berbicara melalui karya sastra.Ia bahkan telah menggoresi hati sejumlah kalangan dengan beragam kesan. Betapa tidak? Penulis tak kurang dari tujuh novel ini sempat mengguncang dengan novel-novelnya seperti Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur (2003), Adam Hawa (2005), dan Kabar Buruk dari Langit (2005). Muhidin seperti membenarkan sinyalemen belakangan ini, bahwa telah muncul kembali cara-cara pemahaman dan penerjemahan nilai-nilai agama secara sempit atau sektarian.
Nur Mursidi: Mencintai Buku Seperti Kekasih
Dimuat di www.wasathon.com, Senin, 26 Maret 2012
Tak peduli berapa banyak buku yang Anda baca dan diresensi? Tokoh kita
ini pasti melakukannya lebih banyak lagi. Kira-kira begitulah kiprah Nur
Mursidi, blogger buku, penulis cerpen, peresensi kawakan sekaligus
penulis opini di berbagai media massa
Lelaki kelahiran Lasem, Rembang ini adalah alumnus jurusan Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Sekarang, masih bekerja sebagai penulis dan berkiprah pada sebuah media yang terbit di Jakarta. Sudah sedikit bertaubat dari Facebook, tapi masih bisa ditemui di Twiternya @n_mursidi atau di blognya Etalase Buku.
Untuk menambah khazah tentang perbukuan, yang kita tahu lewat buku yang kita baca itulah kita bisa mendapat pencerahan untuk kehidupan yang lebih baik lagi setelahnya, maka bincang-bincang dengan tokoh ini dirasa perlu. Berikut bincang ringannya dengan salah satu tim Wasathon.com:
Lelaki kelahiran Lasem, Rembang ini adalah alumnus jurusan Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Sekarang, masih bekerja sebagai penulis dan berkiprah pada sebuah media yang terbit di Jakarta. Sudah sedikit bertaubat dari Facebook, tapi masih bisa ditemui di Twiternya @n_mursidi atau di blognya Etalase Buku.
Untuk menambah khazah tentang perbukuan, yang kita tahu lewat buku yang kita baca itulah kita bisa mendapat pencerahan untuk kehidupan yang lebih baik lagi setelahnya, maka bincang-bincang dengan tokoh ini dirasa perlu. Berikut bincang ringannya dengan salah satu tim Wasathon.com:
Langganan:
Postingan (Atom)

